Kontes Seo DEMIBET.COM Kontes Seo DEMIBET.COM BANDAR JUDI AGEN TARUHAN ONLINE JUDI BOLA CASINO POKER DOMINO TANGKAS TOGEL TERPERCAYA INDONESIA

Foto Hot - Gadis SMA Cantik Bugil Di Kamar Lagi Sange


Foto Hot - Gadis SMA Cantik Bugil Di Kamar Lagi Sange - Sayang sekali wanita cantik ini mengumbar tubuhnya yang sangat indah ini. sangat disayangkan sekali.









Foto Hot - Toket Kenceng Model Wanita Bugil Jepang


Foto Hot - Marlina Cewek Bispak Dari Subang


Foto Hot - Bokep Toket + Meki Mahasiswa Ayam Kampus


Foto Hot - Toket + Meki Mahasiswa Ayam Kampus - Toket + Meki Mahasiswa Ayam Kampus - Toket + Meki Mahasiswa Ayam Kampus 





Curahan Hati Pemijat Plus Di Bilik Sempit



Di bilik sempit berukuran 2X2 meter itu Lusi bekerja sebagai terapis. Tugasnya memijat tamu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Termasuk memberikan servis pijat plus dengan tambahan tips.

Lusi mengaku sudah bekerja setahun di sebuah panti pijat dan spa di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Bayarannya per bulan tidak tentu, tergantung jumlah tamu yang dipijatnya.

Harga setiap paket pijat dan spa di panti itu berkisar antara Rp 120.000 sampai Rp 180.000. Tapi dari jumlah itu, Lusi mengaku hanya mendapat Rp 15.000 sampai Rp 20.000.

"Kalau mengandalkan honor dari uang pijat kecil, Mas. Sebulan paling cuma dapat Rp 600 ribuan," kata Lusi saat berbincang dengan merdeka.com, Sabtu (10/11).

Karena itu Lusi memilih mengejar tips dari konsumen. Untuk itu, gadis 22 tahun ini tak segan-segan merayu konsumennya agar mau dipijat plus. Dari satu konsumen, Lusi bisa mendapat Rp 150.000 hingga Rp 300.000.

Jika satu hari bisa memijat dua hingga tiga pelanggan, Lusi bisa mengantongi lebih dari Rp 10 juta dalam sebulan.

"Kalau tidak begini, bagaimana bisa hidup di Jakarta. Kos saja sudah hampir Rp 1 juta. Belum kebutuhan lain atau mengirim keluarga saya di Cirebon," kata gadis bertubuh mungil ini.

Pertama kali bekerja sebagai terapis, Lusi mengaku ditawari teman. Sebelumnya dia bekerja di sebuah salon di Tegal dengan upah Rp 500.000 per bulan. Sebelum bekerja, terlebih dulu Lusi ditraining memijat. Awalnya dia mengaku risi memijat lelaki, apalagi yang nirbusana. Tapi setelah seminggu, Lusi sudah biasa menjalani profesi barunya.

"Kata dia ikut saya ke Jakarta di sana bisa dapat Rp 10 juta asal mau kerja," ujarnya. Lusi pun mengaku tak masalah dibooking untuk melakukan hubungan intim. Asal harganya cocok, perempuan muda ini mau saja diajak. Syaratnya dilakukan di luar jam kerja. Di panti pijat, terapis tak diperkenankan melakukan hubungan badan.

"Teman-teman juga rata-rata seperti saya. Bisa kok kalau mau dibooking," tutupnya sambil tersenyum manis.

Cerita Seks Dewasa PESTA PERAWAN


monggo dibaca cerita sex dengan judul Cerita Seks Dewasa PESTA PERAWAN yg cerita seks news tampilkan -  Dengan langkah ragu-ragu aku 
mendekati ruang dosen di mana Pak
Hr berada. “Winda…”, sebuah suara memanggil. “Hei Ratna!”. “Ngapain kau cari-cari dosen killer
itu?”, Ratna itu bertanya heran. “Tau nih, aku mau minta ujian

susulan, sudah dua kali aku minta
diundur terus, kenapa ya?”. “Idih jahat banget!”. “Makanya, aku takut nanti di raport
merah, mata kuliah dia kan penting!,
tauk nih, bentar ya aku masuk
dulu!”. “He-eh deh, sampai nanti!” Ratna
berlalu. Dengan memberanikan diri aku
mengetuk pintu. “Masuk…!”, Sebuah suara yang amat
ditakutinya menyilakannya masuk. “Selamat siang pak!”. “Selamat siang, kamu siapa?”,
tanyanya tanpa meninggalkan
pekerjaan yang sedang
dikerjakannya. “Saya Winda…!”. “Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi
itu ya?”. “Iya benar pak.” “Saya tidak ada waktu, nanti hari
Mminggu saja kamu datang ke
rumah saya, ini kartu nama saya”,
Katanya acuh tak acuh sambil
menyerahkan kartu namanya. “Ada lagi?” tanya dosen itu. “Tidak pak, selamat siang!” “Selamat siang!”. Dengan lemas aku beranjak keluar
dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya,
sudah belajar sampai larut malam,
sampai di sini harus kembali lagi hari
Minggu, huh! Mungkin hanya akulah yang hari
Minggu masih berjalan sambil
membawa tas hendak kuliah. Hari ini
aku harus memenuhi ujian susulan di
rumah Pak Hr, dosen berengsek itu. Rumah Pak Hr terletak di sebuah
perumahan elite, di atas sebuah
bukit, agak jauh dari rumah-rumah
lainnya. Belum sempat memijit Bel
pintu sudah terbuka, Seraut wajah
yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul. “Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa
orang itu yang tak lain adalah pak Hr
sendiri. “Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku
berbasa-basi. “Ibu sedang pergi dengan anak-
anak ke rumah neneknya!”, sahut
pak Hr ramah. “Sebentar ya…”, katanya lagi sambil
masuk ke dalam ruangan. Tumben tidak sepeti biasanya ketika
mengajar di kelas, dosen ini terkenal
paling killer. Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding
ruang tamunya bercat putih. Di sudut
ruangan terdapat seperangkat lemari
kaca temapat tersimpan berbagai
barang hiasan porselin. Di tengahnya
ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu. “Gimana sudah siap?”, tanya pak Hr
mengejutkan aku dari lamunannya. “Eh sudah pak!” “Sebenarnya…, sebenarnya Winda
tidak perlu mengikuti ulang susulan
kalau…, kalau…!” “Kalau apa pak?”, aku bertanya tak
mengerti. Belum habis bicaranya, Pak
Hr sudah menuburuk tubuhku. “Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku
kaget sambil meronta mencoba
melepaskan diri. “Jangan berpura-pura Winda sayang,
aku membutuhkannya dan kau
membutuhkan nilai bukan, kau akan
kululuskan asalkan mau melayani
aku!”, sahut lelaki itu sambil
berusaha menciumi bibirku. Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli,
jijik…, namun detah dari mana
asalnya perasaan hasrat menggebu-
gebu juga kembali menyerangku.
Ingin rasanya membiarkan lelaki tua
ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia
lebih pantas jadi bapakku, namun
sebenarnya lelaki tua ini sering
membuatku berdebar-debar juga
kalau sedang mengajar. Tapi aku
tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak
Hr. “Lepaskan…, Pak jangan
hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak
terselesaikan karena terburu bibirku
tersumbat mulut pak Hr. Aku meronta dan berhasil
melepaskan diri. Aku bangkit dan
berlari menghindar. Namun entah
mengapa aku justru berlari masuk ke
sebuah kamar tidur. Kurapatkan
tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang
terengah-engah, entah mengapa
birahiku sedemikian cepat naik.
Seluruh wajahku terasa panas, kedua
kakikupun terasa gemetar. Pak Hr seperti diberi kesempatan
emas. Ia berjalan memasuki kamar
dan mengunci pintunya. Lalu dengan
perlahan ia mendekatiku. Tubuhku
bergetar hebat manakala lelaki tua
itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali
tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr,
bibirku segera tersumbat bibir laki-
laki tua itu. Terasa lidahnya yang
kasap bermain menyapu telak di
dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik
bercampur dengan rasa ingin
dicumbui yang semakin kuat hingga
akhirnya akupun merasa sudah
kepalang basah, hati kecilku juga
menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui
seperti itu oleh Aldy, entah sedang di
mana dia sekarang. aku tidak
menolak lagi. bahkan kini malah
membalas dengan hangat. Merasa mendapat angin kini tangan
Pak Hr bahkan makin berani
menelusup di balik blouse yang aku
pakai, tidak berhenti di situ, terus
menelup ke balik beha yang aku
pakai. Jantungku berdegup kencang ketika
tangan laki-laki itu meremas-remas
gundukan daging kenyal yang ada
di dadaku dengan gemas. Terasa
benar, telapak tangannya yang
kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang
nakal mepermainkan puting susuku.
Gemas sekali nampaknya dia.
Tangannya makin lama makin kasar
bergerak di dadaku ke kanan dan ke
kiri.

Setelah puas, dengan tidak sabaran
tangannya mulai melucuti pakaian
yang aku pakai satu demi satu
hingga berceceran di lantai. Hingga
akhirnya aku hanya memakai secarik
G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan
sarungnya. Di baliknya menyembul
batang penis laki-laki itu yang telah
menegang, sebesar lengan Bayi. Tak terasa aku menjerit ngeri, aku
belum pernah melihat alat vital lelaki
sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa
jebol milikku dimasuki benda itu.
Namun aku tak dapat
menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga
pandangan mataku terus tertuju ke
benda itu. Pak Hr berjalan
mendekatiku, tangannya meraih
kunciran rambutku dan menariknya
hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke
punggung. “Kau Cantik sekali Winda…”, gumam
pak Hr mengagumi kecantikanku. Aku hanya tersenyum tersipu-sipu
mendengar pujian itu. Dengan lembut Pak Hr mendorong
tubuhku sampai terduduk di pinggir
kasur. Lalu ia menarik G-string, kain
terakhir yang menutupi tubuhku dan
dibuangnya ke lantai. Kini kami
berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku,
bahkan dengan gemas ia
mementangkan kedua belah pahaku
lebar-lebar. Matanya benar-benar
nanar memandang daerah di sekitar
selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu. Tak lama kemudian Pak
membenamkan kepalanya di situ.
Mulut dan lidahnya menjilat-jilat
penuh nafsu di sekitar kemaluanku
yang tertutup rambut lebat itu. Aku
memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-
sampai tubuhku dibuat
menggelinjang-gelinjang kegelian. “Pak…!”, rintihku memelas. “Pak…, aku tak tahan lagi…!”, aku
memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh aku tak tahan lagi
mengalamai siksaan birahi yang
dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya
lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan
demikian. Ini terlihat dari gerakan
tangannya yang kini bahkan terjulur
ke atas meremas-remas payudaraku,
tetapi tidak menyudahi
perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah
kuyup. “Paakk…, aakkhh…!”, aku
mengerang keras, kakinya menjepit
kepala Pak Hr melampiaskan derita
birahiku, kujambak rambut Pak Hr
keras-keras. Kini aku tak peduli lagi
bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki
ini membangkitkan gairahku. aku
yakin dengan nafsunya yang sebesar
itu dia tentu sangat berpengalaman
dalam hal ini, bahkan sangat
mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah
digaulinya. Tapi apa peduliku? Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu
ia berdiri di depanku yang masih
terduduk di tepi ranjang dengan
bagian bawah perutnya persis
berada di depan wajahku. aku sudah
tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri,
tangannya telah meraih kepalaku
untuk dibawa mendekati
kejantanannya yang aduh mak..,
Sungguh besar itu. Tanpa melawan sama sekali aku
membuka mulut selebar-lebarnya,
Lalu kukulum sekalian alat vital Pak
Hr ke dalam mulutku hingga
membuat lelaki itu melek merem
keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya
saja ke dalam mulutku. Itupun sudah
terasa penuh. Aku hampir sesak
nafas dibuatnya. Aku pun bekerja
keras, menghisap, mengulum serta
mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa
benar kepala itu bergetar hebat
setiap kali lidahku menyapu
kepalanya. Beberapa saat kemudian Pak Hr
melepaskan diri, ia membaringkan
aku di tempat tidur dan menyusul
berbaring di sisiku, kaki kiriku
diangkat disilangkan di
pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika
itu pula kepala penis Pak Hr yang
besar itu menggesek clitoris di liang
senggamaku hingga aku merintih
kenikmatan. Ia terus berusaha
menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat
basah. Pelahan-lahan benda itu
meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba
menekankan miliknya seluruhnya
amblas ke dalam diriku aku tak
kuasa menahan diri untuk tidak
memekik. Perasaan luar biasa
bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang
beberapa detik. Pak Hr cukup mengerti keadaan
diriku, ketika dia selesai masuk
seluruhnya dia memberi kesempatan
padaku untuk menguasai diri
beberapa saat. Sebelum kemudian
dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian
makin lama makin cepat. Aku sungguh tak kuasa untuk tidak
merintih setiap Pak Hr
menggerakkan tubuhnya, gesekan
demi gesekan di dinding dalam liang
senggamaku sungguh membuatku
lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara
bibirnya tak hentinya melumat bibir,
tengkuk dan leherku, tangannya
selalu meremas-remas payudaraku.
Aku dapat merasakan puting susuku
mulai mengeras, runcing dan kaku. Aku bisa melihat bagaimana batang
penis lelaki itu keluar masuk ke
dalam liang kemaluanku. Aku selalu
menahan nafas ketika benda itu
menusuk ke dalam. Milikku hampir
tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin
membuat Pak Hr tergila-gila.

Tidak sampai di situ, beberapa menit
kemudian Pak Hr membalik tubuhku
hingga menungging di hadapannya.
Ia ingin pakai doggy style rupanya.
Tangan lelaki itu kini lebih leluasa
meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini
menggantung berat ke bawah.
Sebagai seorang wanita aku memiliki
daya tahan alami dalam bersetubuh.
Tapi bahkan kini aku kewalahan
menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya.
Sudah hampir setengah jam ia
bertahan. Aku yang kini duduk
mengangkangi tubuhnya hampir
kehabisan nafas. Kupacu terus goyangan pinggulku,
karena aku merasa sebentar lagi aku
akan memperolehnya. Terus…,
terus…, aku tak peduli lagi dengan
gerakanku yang brutal ataupun
suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa
itu. Dan ketika klimaks itu sampai,
aku tak peduli lagi…, aku memekik
keras sambil menjambak rambutnya.
Dunia serasa berputar. Sekujur
tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini.
Sungguh ironi memang, aku
mendapatkan kenikmatan seperti ini
bukan dengan orang yang aku
sukai. Tapi masa bodohlah. Berkali-kali kuusap keringat yang
membasahi dahiku. Pak Hr kemudian
kembali mengambil inisiatif. kini
gantian Pak Hr yang menindihi
tubuhku. Ia memacu keras untuk
mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar,
sementara goyangan pinggulnya
pun semakin cepat dan kasar.
Peluhnya sudah penuh membasahi
sekujur tubuhnya dan tubuhku.
Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini.
Walaupun sudah berumur tapi masih
bertahan segitu lama. Bahkan
mengalahkan semua cowok-cowok
yang pernah tidur denganku,
walaupun mereka rata-rata sebaya denganku. Namun beberapa saat kemudian, Pak
Hr mulai menggeram sambil
mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki
tua itu bergetar hebat di atas
tubuhku. Penisnya menyemburkan
cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya. Beberapa saat kemudian, perlahan-
lahan kami memisahkan diri. Kami
terbaring kelelahan di atas kasur itu.
Nafasku yang tinggal satu-satu
bercampur dengan bunyi nafasnya
yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami
yang sudah tercerai berai. Aku sendiri terpejam sambil mencoba
merasakan kenikmatan yang baru
saja aku alami di sekujur tubuhku ini.
Terasa benar ada cairan kental yang
hangat perlahan-lahan meluncur
masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik. Bagian bawah tubuhku itu terasa
benar-benar banjir, basah kuyub.
Aku menggerakkan tanganku untuk
menyeka bibir bawahku itu dan
tanganku pun langsung dipenuhi
dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana. “Bukan main Winda, ternyata kau
pun seperti kuda liar!” kata Pak Hr
penuh kepuasan. Aku yang
berbaring menelungkup di atas
kasur hanya tersenyum lemah. aku
sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak
beristirahat. Persetan dengan
tubuhku yang masih telanjang bulat. Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia
menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki
tua itu mulai mengenakan kembali
pakaiannya. Aku pun dengan malas
bangkit dan mengumpulkan
pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil berpakaian ia bertanya,
“Bagaimana dengan ujian saya
pak?”. “Minggu depan kamu dapat
mengambil hasilnya”, sahut laki-laki
itu pendek. “Kenapa tidak besok pagi saja?”,
protes aku tak puas. “Aku masih ingin bertemu kamu,
selama seminggu ini aku minta agar
kau tidak tidur dengan lelaki lain
kecuali aku!”, jawab Pak Hr. Aku sedikit terkejut dengan
jawabannya itu. Tapi akupun segera
dapat menguasai keadaanku.
Rupanya dia belum puas dengan
pelayanan habis-habisanku barusan. “Aku tidak bisa janji!”, sahutku
seenaknya sambil bangkit berdiri
dan keluar dari kamar mencari kamar
mandi. Pak Hr hanya mampu
terbengong mendengar jawabanku
yang seenaknya itu. Aku sedang berjalan santai
meninggalkan rumah pak Hr, ini
pertemuanku yang ketiga dengan
laki-laki itu demi menebus nilai
ujianku yang selalu jeblok jika ujian
dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main
denganku. Dasar…, namun harus
kuakui, dia laki-laki hebat, daya
tahannya sungguh luar biasa jika
dibandingkan dengan usianya yang
hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini
dia masih sanggup menggarapku
tiga kali, sekali di ruang tengah
begitu aku datang, dan dua kali di
kamar tidur. Aku sempat terlelap
sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang.
Berutung kali ini, aku bisa
memaksanya menandatangani
berkas ujian susulanku. “Masih ada mata kuliah Pengantar
Berorganisasi dan Kepemimpinan”,
katanya sambil membubuhkan nilai
A di berkas ujianku. “Selama bapak masih bisa
memberiku nilai A”, kataku pendek. “Segeralah mendaftar, kuliah akan
dimulai minggu depan!”. “Terima kasih pak!” kataku sambil
tak lupa memberikan senyum
semanis mungkin.

“Winda!” teriakan seseorang
mengejutkan lamunanku. Aku
menoleh ke arah sumber suara tadi
yang aku perkirakan berasal dari
dalam mobil yang berjalan perlahan
menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah
yang sangat aku benci muncul dari
balik pintu Mitsubishi Galant keluaran
tahun terakhir itu. “Masuklah Winda…”. “Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan
sendiri koq!”, Aku masih mencoba
menolak dengan halus. “Ayolah, masa kau tega menolak
ajakanku, padahal dengan pak Hr
saja kau mau!”. Aku tertegun sesaat, Bagai disambar
petir di siang bolong. “Da…,Darimana kau tahu?”. “Nah, jadi benar kan…, padahal aku
tadi hanya menduga-duga!” “Sialan!”, Aku mengumpat di dalam
hati, harusnya tadi aku bersikap lebih
tenang, aku memang selalu nervous
kalau ketemu cowok satu ini,
rasanya ingin buru-buru pergi dari
hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu. Seperti tipikal orang Indonesia
bagian daerah paling timur, cowok
ini hitam tinggi besar dengan postur
sedikit gemuk, janggut dan cambang
yang tidak pernah dirapikan dengan
rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya
memakai kemeja yang tidak pernah
dikancingkan dengan benar
sehingga memamerkan dadanya
yang penuh bulu. Dengan asesoris
kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup
menunjukkan bahwa dia ini orang
yang memang punya duit. Namun,
aku menjadi muak dengan
penampilan seperti itu. Dino memang salah satu jawara di
kampus, anak buahnya banyak dan
dengan kekuatan uang serta gaya
jawara seperti itu membuat dia
menjadi salah satu momok yang
paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan
mungkin bahkan tidak pernah lulus,
namun tidak ada orang yang berani
mengusik keberadaannya di kamus,
bahkan dari kalangan akademik
sekalipun. “Gimana? Masih tidak mau masuk?”,
tanya dia setengah mendesak. Aku tertegun sesaat, belum mau
masuk. Aku memang sangat tidak
menyukai laki-laki ini, Tetapi
kelihatannya aku tidak punya pilihan
lain, bisa-bisa semua orang tahu apa
yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin
menjaga rahasia ini, terutama
terhadap Erwin, tunanganku. Namun
saat ini aku benar benar terdesak
dan ingin segera membiarkan
masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan
saja ajakannya. Dino tertawa penuh kemenangan, ia
lalu berbicara dengan orang yang
berada di sebelahnya supaya
berpindah ke jok belakang. Aku
membanting pantatku ke kursi mobil
depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda.
Kesenangan. “Ke mana kita?”, tanyaku hambar. “Lho? Mestinya aku yang harus
tanya, kau mau ke mana?”, tanya
Dino pura-pura heran. “Sudahlah Dino, tak usah berpura-
pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku
sudah sedemikian pasrahnya. Aku
sudah tidak mau berpikir panjang
lagi untuk meminta dia menutup-
nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa. “Rupanya dia cukup mengerti apa
kemauanmu Dino!”, Dia
berkomentar. “Ah, diam kau Maki!” Rupanya orang
itu namanya Maki, orang dengan
penampilan hampir mirip dengan
Dino kecuali rambutnya yang
dipotong crew-cut. “Bagaimana kalau ke rumahku saja?
Aku sangat merindukanmu Winda!”,
pancing Dino. “Sesukamulah…!”, Aku tahu benar
memang itu yang diinginkannya. Dino tertawa penuh kemenangan. Ia melarikan mobilnya makin
kencang ke arah sebuah kompleks
perumahan. Lalu mobil yang
ditumpangi mereka memasuki
pekarangan sebuah rumah yang
cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu
Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota
Great Corolla namun keduanya
kelihatan diparkir sekenanya tak
beraturan. Interior depan rumah itu sederhana
saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak
perabotan pecah belah. Tak lebih.
Dindingnya polos. Demikian juga
tempok ruang tengah. Terasa betapa
luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak
minuman beraneka ragam terdapat
di sudut ruangan, menghadap ke
taman samping. Sebuah stereo set
terpasang di ujung bar. Tampaknya
baru saja dimatikan dengan tergesa- gesa. Pitanya sebagian tergantung
keluar.

Dari pintu samping kemudian muncul
empat orang pemuda dan seorang
gadis, yang jelas-jelas masih
menggunakan seragam SMU. Mereka
semua mengeluarkan suara
setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya
sesuku dengan Dino atau
sebangsanya, sedangkan yang satu
lagi seperti bule dengan rambutnya
yang gondrong. Sementara si gadis
berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang
hitam lurus dan panjang tergerai
sampai ke pinggang, ia memakai
bandana lebar di kepalanya dengan
poni tebal menutupi dahinya.
Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia
keturunan Cina atau sebangsanya.
Harus kuakui dia memang cantik,
seperti bintang film drama Mandarin.
Berbeda dengan penampilan ketiga
laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan
mereka, dilihat dari tampangnya
yang masih lugu. Ia masih
mengenakan seragam sebuah
sekolah Katolik yang langsung bisa
aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa
bergaul dengan orang-orang ini. Dino bertepuk tangan. Kemudian
memperkenalkan diriku dengan
mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal
orang sebangsa Dino, Tito berbadan
tambun dan yang bule namanya
Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang
laki-laki memandang diriku dengan
mata “lapar” membuat aku tanpa
sadar menyilangkan tangan di depan
dadaku, seolah-olah mereka bisa
melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini. Tampak tak sabaran Dino menarik
diriku ke loteng. Langsung menuju
sebuah kamar yang ada di ujung.
Kamar itu tidak berdaun pintu,
sebenarnya lebih tepat disebut ruang
penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di
salah satu ujungnya merupakan
pintu tembusan ke ruang lain. Di sana ada sebuah kasur yang
terhampar begitu saja di lantai kamar.
Dengan sprei yang sudah acak-
acakan. Di sudut terdapat dua buah
kursi sofa besar dan sebuah meja
kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang
cover depannya saja bisa membuat
orang merinding. Bergambar
perempuan-perempuan telanjang. Aku sadar bahkan sangat sadar, apa
yang dimaui Dino di kamar ini. Aku
beranjak ke jendela. Menutup
gordynnya hingga ruangan itu
kelihatan sedikit gelap. Namun tak
lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar
membelakangi Dino, dan mulai
melucuti pakaian yang aku kenakan.
Dari blouse, kemudian rok
bawahanku kubiarkan meluncur
bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik
menghadap Dino. Betapa terkejutnya aku ketika aku
berbalik, ternyata di hadapanku kini
tidak hanya ada Dino, namun Maki
juga sedang berdiri di situ sambil
cengengesan. Dengan gerakan
reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang
setengah telanjang. Melihat
keterkejutanku, kedua laki-laki itu
malah tertawa terbahak-bahak. “Ayolah Winda, Toh engkau juga
sudah sering memperlihatkan tubuh
telanjangmu kepada beberapa laki-
laki lain?”. “Kurang ajar kau Dino!” Aku
mengumpat sekenanya. Wajah laki-laki itu berubah seketika,
dari tertawa terbahak-bahak menjadi
serius, sangat serius. Dengan tatapan
yang sangat tajam dia berujar,
“Apakah engkau punya pilihan lain?
Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan
kejadian ini.” Aku tertegun, melayani dua orang
sekaligus belum pernah aku lakukan
sebelumnya. Apalagi orang-orang
yang bertampang seram seperti ini.
Tapi seperti yang dia bilang, aku tak
punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di
kepalaku hingga membuat aku
pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai
gemetaran, terasa sekali lututku
lemas sepertinya aku sudah
kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka
sama sekali belum memulainya. Akhirnya, dengan sangat berat aku
menggerakkan kedua tangan ke
arah punggungku di mana aku bisa
meraih kaitan BH yang aku pakai.
Baju yang tadi aku pakai untuk
menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan
sekali sentakan halus BH-ku telah
terlepas dan meluncur bebas dan
sebelum terjatuh ke lantai
kulemparkan benda itu ke arah Dino
yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian
dalam mangkuk bra-ku dengan
penuh perasaan. “Harum!”, katanya. Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu
dari benda itu, dan ketika
ditemukannya ia berhenti. “36B!”, katanya pendek. Rupanya ia pingin tahu berapa
ukuran dadaku ini. “BH-nya saja sudah sedemikian
harum, apalagi isinya!”, katanya
seraya memberikan BH itu kepada
Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-
ikutan menciumi benda itu. Namun
demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku
yang kini tidak tertutup apa-apa lagi. Aku kini hanya berdiri menunggu,
dan tanpa diminta Dino melangkah
mendekatiku. Ia meraih kepalaku.
Tangannya meraih kunciran rambut
dan melepaskannya hingga
rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung. “Nah, dengan begini kau kelihatan
lebih cantik!”

Ia terus berjalan memutari tubuhku
dan memelukku dari belakang. Ia
sibakkan rambutku dan
memindahkannya ke depan lewat
pundak sebelah kiriku, sehingga
bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang.
Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke
tengkuk belakangku. Lidahnya
menjelajah di sekitar leher, tengkuk
kemudian naik ke kuping dan
menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu
yang tadi memeluk pinggangku kini
mulai merayap naik dan mulai
meremas-remas kedua belah
payudaraku dengan gemas. Aku
masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama
sekali selain memejamkan mataku. Dino rupanya tidak begitu suka aku
bersikap pasif, dengan kasar ia
menarik wajahku hingga bibirnya
bisa melumat bibirku. Aku hanya
berdiam diri saja tak memberikan
reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke
dalam mulutku, dan ketika berhasil
lidahnya bergerak bebas menjilati
lidahku hingga secara tak sengaja
lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku
mencoba untuk menikmati perasaan
itu dengan utuh. Tak ada gunanya
aku menolak, hal itu akan
membuatku lebih menderita lagi.
Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan
telapak tangannya di payudaraku
sambil sekali-sekali ibu jari dan
telunjuknya memilin-milin puting
susuku, pertahananku akhirnya
bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai
dengan permaian seperti ini hingga
dengan mudahnya Dino mulai
membangkitkan nafsuku. Bahkan
kini aku mulai memberanikan
menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di
belakangku. Sementara dengan ekor
mataku aku melihat Maki beranjak
berjalan menuju sofa dan duduk di
sana, sambil pandangan matanya
tidak pernah lepas dari kami berdua. Mungkin karena merasa sudah
menguasai diriku, ciuman Dino terus
merambat turun ke leherku,
menghisapnya hingga aku
menggelinjang. Lalu merosot lagi
menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya
hinggap di salah satu pucuk bukit di
dadaku, Dengan satu remasan yang
gemas hingga membuat puting
susuku melejit Dino untuk
mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu
bergerak memutari seluruh daerah
puting susuku sebelum mulutnya
mengenyot habis puting susuku itu.
Ia menghisapnya dengan gemas
sampai pipinya kempot. Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan
disengat listrik, terasa geli yang luar
biasa bercampur sedikit nyeri di
bagian itu. Aku menggelinjang,
melenguh apalagi ketika puting
susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu
dipermainkan pula dengan lidah
Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya
kesana kemari. Dikecupinya, dan
disedotnya kuat-kuat sampai
putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks
meremas dan menarik kepalanya
sehingga semakin membenam di
kedua gunung kembarku yang putih
dan padat. Aku sungguh tak tahu
mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku
justeru tenggelam dalam permaianan
itu? Semula aku hanya merasa
terpaksa demi menutupi rahasia atas
perbuatanku. Tapi kemudian
nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh
sekali, Tanpa sadar aku mulai
mengikuti permainan yang dipimpin
dengan cemerlang oleh Dino. “Winda…”, “Ya?”, “Kau suka aku
perlakukan seperti ini?”. Aku hanya
mengangguk. Dan memejamkan
matanya. membiarkan payudaraku
terus diremas-remas dan puting
susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang
luar biasa. Puting susu yang mungil
itu hanya sebentar saja sudah
berubah membengkak, keras dan
mencuat semakin runcing. “Hsss…, ah!”, Aku mendesah saat
merasakan jari-jari tangan lelaki itu
mulai menyusup ke balik celana
dalamku dan merayap mencari liang
yang ada di selangkanganku. Dan
ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-
usap permukaannya, terus
mengusap-usap dan ketika sudah
terasa basah jarinya mulai merayap
masuk untuk kemudian menyentuh
dinding-dinding dalam liang itu. Dalam posisi masih berdiri
berhadapan, sambil terus
mencumbui payudaraku, Dino
meneruskan aksinya di dalam liang
gelap yang sudah basah itu. Makin
lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan,
kedua buah jari yang ada di dalam
liang vaginaku itu bergerak-gerak
dengan liar. Bahkan kadang-kadang
mencoba merenggangkan liang
vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia
menggerak-gerakkan jarinya keluar
masuk ke dalam liang vaginaku
seolah-olah sedang menyetubuhiku.
Aku tak kuasa untuk menahan diri.

“Nggghh…!”, mulutku mulai
meracau. Aku sungguh kewalahan
dibuatnya hingga lututku terasa
lemas hingga akhirnya akupun tak
kuasa menahan tubuhku hingga
merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku
yang terengah-engah. Aku sungguh
tidak memperhatikan lagi yang
kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah
berdiri telanjang bulat di hadapanku.
Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan
angkuhnya berdiri mengangkang
persis di depanku sehingga wajahku
persis menghadap ke bagian
selangkangannya. Disitu, aku melihat
batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang
kehitaman dengan bulu hitam yang
lebat di daerah pangkalnya. Dengan sekali rengkuh, ia meraih
kepalaku untuk ditarik mendekati
daerah di bawah perutnya itu. Aku
tahu apa yang dimauinya, bahkan
sangat tahu ini adalah perbuatan
yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral
seks terhadap kelaminnya. Maka, dengan kepalang basah,
kulakukan apa yang harus
kulakukan. Benda itu telah masuk ke
dalam mulutku dan menjadi
permainan lidahku yang berputar
mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu
berhenti ketika menemukan lubang
yang berada persis di ujungnya. Lalu
dengan segala kemampuanku aku
mulai mengelomoh batang itu sambil
kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya
bergetar hebat menahan rasa yang
tak tertahankan. Pada saat itu aku sempat melirik ke
arah sofa di mana Maki berada, dan
ternyata laki-laki ini sudah mulai
terbawa nafsu menyaksikan
perbuatan kami berdua. Buktinya, ia
telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya
naik turun sambil berkali-kali
menelan ludah. Konsentrasiku buyar
ketika Dino menarik kepalaku
hingga menjauh dari
selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas
kasur yang terhampar di situ. Lalu
dengan cepat ia melucuti celana
dalamku dan dibuangnya jauh-jauh
seakan-akan ia takut aku akan
memakainya kembali. Untuk beberapa detik mata Dino
nanar memandang bagian bawah
tubuhku yang sudah tak tertutup
apa-apa lagi. Si Makipun sampai
berdiri mendekat ke arah kami
berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan. Namun beberapa detik kemudian,
Dino mulai merenggangkan kedua
belah pahaku lebar-lebar. Paha
kiriku diangkatnya dan
disangkutkan ke pundaknya. Lalu
dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya
dan diusap-usapkan ke permukaan
bibir vaginaku yang sudah sangat
basah. Ada rasa geli menyerang di
situ hingga aku menggelinjang dan
memejamkan mata. Sedetik kemudian, aku merasakan
ada benda lonjong yang mulai
menyeruak ke dalam liang vaginaku.
Aku menahan nafas ketika terasa
ada benda asing mulai menyeruak di
situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat
pertama kali ada kejantanan laki-laki
menyeruak masuk ke dalam liang
vaginaku. Dengan perlahan namun pasti,
kejantanan Dino meluncur masuk
semakin dalam. Dan ketika sudah
masuk setengahnya ia bahkan
memasukkan sisanya dengan satu
sentakan kasar hingga aku benar- benar berteriak karena terasa nyeri.
Dan setelah itu, tanpa memberiku
kesempatan untuk membiasakan diri
dulu, Dino sudah bergoyang mencari
kepuasannya sendiri. Dino menggerak-gerakkan
pinggulnya dengan kencang dan
kasar menghunjam-hunjam ke dalam
tubuhku hingga aku memekik keras
setiap kali kejantanan Dino
menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat
yang tak terkira. Ada sensasi aneh
yang baru pertama kali kurasakan di
mana di sela-sela rasa ngilu itu aku
juga merasakan rasa nikmat yang tak
terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku
sampai menangis menggebu-gebu,
sakit keluhku setiap kali Dino
menghunjam, tapi aku semakin
mempererat pelukanku, Pedih, tapi
aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap
diriku. Aku semakin merintih. Air mataku
meleleh keluar. kami terus bergulat
dalam posisi demikian. Sampai tiba-
tiba ada rasa nikmat yang luar biasa
di sekujur tubuhku. Aku telah
orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci.
Tubuhku mengejang selama
beberapa puluh detik. Sebelum
melemas. Namun Dino rupanya
belum selesai. Ia kini membalikkan
tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan
kedua lututku. Ia ingin
meneruskannya dengan doggy style.
Aku hanya pasrah saja. Kini ia menyetubuhiku dari belakang.
Tangannya kini dengan leluasa
berpindah-pindah dari pinggang,
meremas pantat dan meremas
payudaraku yang menggelantung
berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia
bisa dengan leluasa
menggoyangkan tubuhnya dengan
cepat dan semakin kasar. Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah
duduk mengangkang di depanku.
Laki-laki ini juga telah telanjang bulat.
Ia menyodorkan batang penisnya ke
dalam mulutku, tangannya meraih
kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang
kejantanannya itu ke dalam mulutku.

Kini aku melayani dua orang
sekaligus. Dino yang sedang
menyetubuhiku dari belakang. Dan
Maki yang sedang memaksaku
melakukan oral seks terhadap
dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan
untuk menikmati payudaraku. Aku
mengerang pelan setiap kali ia
menghisap puting susuku. Dengan
dua orang yang mengeroyokku aku
sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku
merasa sangat terangsang dengan
posisi seperti ini. Mereka menyetubuhiku dari dua
arah, yang satu akan menyebabkan
penis pada tubuh mereka yang
berada di arah lainnya semakin
menghunjam. Kadang-kadang aku
hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku
mengalah dan hanya diam saja. Dino
yang mengatur segala gerakan. Perlahan-lahan kenikmatan yang
tidak terlukiskan menjalar di sekujur
tubuhku. Perasaan tidak berdaya
saat bermain seks ternyata
mengakibatkan diriku melambung di
luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku
mengejang, deras dan tanpa henti.
Aku mengalami orgasme yang
datang dengan beruntun seperti tak
berkesudahan. Tidak lama kemudian Dino
mengalami orgasme. Batang
penisnya menyemprotkan air mani
dengan deras ke dalam liang
vaginaku. Benda itu menyentak-
nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku.
Aku bisa merasakan air mani yang
disemprotkannya banyak sekali,
hingga sebagian meluap keluar
meleleh di salah satu pahaku.
Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino.
Masih dalam posisi doggy style.
Batang kejantanannya dengan mulus
meluncur masuk dalam sekali sampai
menyentuh bibir rahimku. Ia bisa
mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah
sangat licin dilumasi cairan yang
keluar dari dalamnya dan sudah
bercampur dengan air mani Dino
yang sangat banyak. Permainan
dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino
dengan nafas yang tersengal-sengal
telah duduk telentang di atas sofa
yang tadi diduduki Maki untuk
mengumpulkan tenaga. Aku
mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki
terus memacu gerakkannya. Semakin
lama semakin keras dan kasar
hingga membuat aku merintih dan
mengaduh tak berkesudahan. Pada saat itu masuk Bram dan Tito
bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa
basa-basi, mereka pun langsung
melucuti pakaiannya hingga
telanjang bulat. Lalu mereka duduk
di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara
aku dan Maki. Bram nampak
kelihatan tidak sabaran Tetapi aku
sudah tidak peduli lagi. Maki terus
memacu menggebu-gebu. Laki-laki
itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung
berat ke bawah. Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan
kembali telentang di atas kasur dan
pada saat itu Bram dengan tangkas
menyodorkan batang kejantanannya
ke dalam mulutku. Aku sudah
setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti
tubuhku. Keadaanku sudah
sedemikian acak-acakan. Rambut
yang kusut masai. Tubuhku sudah
bersimpah peluh. Tidak hanya
keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat
dari para laki-laki yang bergantian
menggauliku. Aku kini hanya
telentang pasrah ditindihi tubuh
gemuk Tito yang bergoyang-goyang
di atasnya. Laki-laki gemuk itu
mengangkangkan kedua belah
pahaku lebar-lebar sambil terus
menghunjam-hunjamkan miliknya
ke dalam milikku. Sementara Bram
tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus
saja menjejal-jejalkan miliknya ke
dalam mulutku. Aku sendiri sudah
tidak bisa mengotrol diriku lagi.
Guncangan demi guncangan yang
diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin
terangsang. Bukan lagi kuluman dan
jilatan yang harusnya aku lakukan
dengan lidah dan mulutku. Dan ketika Tito melenguh panjang, ia
mencapai orgasmenya dengan
meremas kedua belah payudaraku
kuat-kuat hingga aku berteriak
mengaduh kesakitan. Lalu beberapa
saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan
diri dari diriku. Dan pada saat hampir
bersamaan Bram juga mengerang
keras. Batang kejantanannya yang
masih berada di dalam mulutku
bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat.
Aku meronta, ingin mengeluarkan
banda itu dari dalam mulutku, namun
tangan Bram yang kokoh tetap
menahan kepalaku dan aku tak
kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan
kental yang hangat itu akhirnya
tertelan olehku. Banyak sekali.
Bahkan sampai meluap keluar
membasahi daerah sekitar bibirku
sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan
cepat mencoba menelan semua yang
ada supaya tidak terlalu terasa di
dalam mulutku. Aku memejamkan
mata erat-erat, tubuhku mengejang
melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi
aneh yang luar biasa juga di dalam
diriku. Sungguh sangat erotis
merasakan siksa birahi semacam ini
hingga akupun akhirnya orgasme
panjang untuk ke sekian kalinya.

Dengan ekor mataku aku kembali
melihat seseorang masuk ke
ruangan yang ternyata si bule dan
orang itu juga mulai membuka
celananya. Aku menggigit bibir, dan
mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika
Marchell mulai menindihi tubuhku.
Pasrah. Tidak lama kemudian setelah orang
terakhir melaksanakan hasratnya
pada diriku mereka keluar. aku
merasa seluruh tubuhku luluh lantak.
Setelah berhasil mengumpulkan
cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari
tempat tidur, mengenakan
pakaianku seadanya dan pergi
mencari kamar mandi. Aku berpapasan dengan Dino yang
muncul dari dalam sebuah ruangan
yang pintunya terbuka. Lelaki itu
sedang sibuk mengancingkan
retsluiting celananya. Masih sempat
terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang
telanjang sedang ditindihi oleh tubuh
Maki yang bergerak-gerak cepat.
Memacu naik turun. Gadis itu
menggelinjang-gelinjang setiap kali
Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku. “Di mana aku bisa menemukan
kamar mandi?” tanyaku pada Dino. Tanpa menjawab, ia hanya
menunjukkan tangannya ke sebuah
pintu. Tanpa basa-basi lagi aku
segera beranjak menuju pintu itu. Di sana aku mandi berendam air
panas sambil mengangis. Aku tidak
tahu saya sudah terjerumus ke dalam
apa kini. Yang membuat aku benci
kepada diriku sendiri, walaupun aku
merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun
demikian setiap kali teringat kejadian
barusan, langsung saja
selangkanganku basah lagi. Aku berendam di sana sangat lama,
mungkin lebih dari satu jam lamanya.
Setelah terasa kepenatan tubuhku
agak berkurang aku menyudahi
mandiku. Dengan berjalan tertatih-
tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu
keluar. Sudah hampir jam sebelas
malam ketika aku keluar dari rumah
itu. Sampai di dalam rumah, Aku
langsung ngeloyor masuk ke kamar.
Aku tak peduli dengan kakakku
yang terheran-heran melihat tingkah
lakuku yang tidak biasa, aku tak
menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara
lagi malam ini. Aku tumpahkan
segala perasaan campur aduk itu,
kekesalan, dan sakit hati dengan
menangis.

TAMAT

CERITA SEKS MONA DAN BAPAK KOST



Berikut cerita sex dengan judul CERITA SEKS MONA DAN BAPAK KOST yg akan cerita seks news tampilkan - “Huuuh..nyebelin banget sih tuh aki- aki..” gerutu Mona sambil mengunci pintu kamar kostnya. Kembali hari ini ia sebel dengan Pak Mahmud, si bapak

kostnya yang sering bersikap genit dan terkadang menjurus kurang ajar terhadap dirinya. Kejadiannya tadi saat dia pulang kantor berpapasan dengan Pak Mahmud yang sedang berusaha memaku sesuatu di dinding. “Sore pak..lagi ngapain pak..?” sapa Mona demi kesopanan. “Eh..mba Mona dah pulang..”sahut Mahmud dengan mata berbinar. “Kebetulan aku mau minta tolong sebentar bisa?” Mona yang mau buru- buru ke kamar terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh. “Apaan pak?” tanyanya sekenanya, kembali ia kesal melihat pandangan mata pak tua itu yang jelalatan ke arah dadanya. “Ini loh..kamu bisa pasangin lukisan ini ga kepaku yang dah saya pasang itu, takutnya tangganya goyang banget karena berat badan saya, maklum agak gendut gini ribet jadinya” katanya sambil cengengesan dan kembali pandangan matanya menyantap kulit leher Mona yang mulus.”nanti saya pegangin tangganya”. Mona menyanggupi dan dia menaiki tangga yang memang sudah goyang itu, gadis itu baru sadar pas naik ke pijakan kedua bahwa tangga itu memiliki jarak yang cukup lebar antara pijakan-pijakannya, jadi saat kakinya naik ke pijakan kedua, dirinya yang saat ini menggunakan rok span ketat agak kesulitan dan roknya menjadi tertarik ke atas sehingga pahanya menjadi terbuka. Kejadian itu berulang lagi saat ia ke pijakan ketiga, bahkan jaraknya makin jauh sehingga pahanya makin terbuka lebih lebar. Mona mengutuk dalam hati, saat melirik Pak Mahmud yang dengan senyum mesumnya menikmati pahanya yang jenjang dan berkulit mulus bersih itu. Melihat pemandangan indah ini, Pak Mahmud merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan penisnya yang jadi menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi ia menahan diri. Ia menyerahkan lukisan 

ke Mona untuk dipasang, tapi karena nyantolinnya masih agak tinggi maka gadis itu harus memasangnya dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, ia tidak sadar bahwa karena
gerakannya itu blusnya yang pendek ikut tertarik ke atas sehingga terlihat kulit pinggangnya yang ramping sampai ke perut di bawah dadanya. Dengan sengaja Pak Mahmud menggoyangkan tangganya sehingga 

memperlama dirinya untuk bisa menikmati pemandangan pinggang berkulit mulus gadis itu. Setelah selesai 

terpasang, Mona menurunkan kaki kirinya ke pijakan kedua yang ternyata tanpa sepengetahuannya telah dilonggarkan pakunya. Sambil terus menikmati paha Mona yang terbuka kembali, Pak Mahmud bersiap-siap. “Eiiihh…eiihh..” Mona menjerit kecil saat pijakannya lepas dan ia terjatuh ke belakang dan saat itu dengan sigap Pak Mahmud menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh lebih parah. Merah muka gadis itu karena satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari “pelukan”
Pak Mahmud yang mengambil kesempatan itu. “Waduh, untung sempet saya pegangin mba nya, kalo ngga bisa berabe tuh..” ujar Pak Mahmud cengengesan yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Mona tadi walau sesaat tadi. “Mmm..iya pak, makasih..udah kan pak ya..” tukas Mona sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Mahmud yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu. “Hmmm..tunggu aja ntar ya..lo bakal kena ama gua” pikir pria tambun setengah tua ini dalam hati. Sudah banyak planning yang kotor dan mesum darinya yang memang punya sedikit kelainan seks ini. Di dalam kamar, Mona masih sebel sama kejadian tadi. Sudah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata-kata yang menjurus mesum dari bandot tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bahwa tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang di tengah kota dan dekat ke tempat kerja atau mau ke mana-mana. Maka ia memutuskan untuk tetap bertahan asalkan si mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Bila ketemu pasti Mona merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Mahmud yang seperti menelanjangi sekujur tubuhnya, tapi terkadang selain ngeri dan risih gadis itu juga merasakan bangga dan senang karena kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu walau Mahmud bukan levelnya untuk bisa menikmati dirinya. Beberapa kali kalau berpapasan sama Mahmud dan berbincang- bincang, selalu saja tangannya tidak pernah diam menjamah, walau hanya menjamah pundak atau lengannya tetap saja gadis itu merasa risih karena
sambil melakukan itu bapak kost itu merayu dengan kata-kata yang kampungan. “Ahh..udahlah, ga penting juga..mendingan gua mandi” kata Mona dalam hati Sambil berkaca ia mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara berukuran 34D itu. Dengan pinggang yang ramping, maka buah dada itu tampak sangat besar dan indah dan karena Mona rajin ke fitness makin tampak kencang dan padat. Sungguh merupakan idaman bagi semua laki- laki di dunia bagi yang dapat menikmatinya. Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok span-nya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 168cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada. Body yang akan membuat laki-laki rela untuk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih asia dan dihiasi dengan bulu-bulu halus nan lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara. Mona melepas kaitan bra disusul dengan cd-
nya yang segera dilemparkan ke ember tempat baju kotor. Ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan. “Auuh…” gadis itu sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada kemaluannya yang tanpa sadar tangan kirinya turun
ke arah vaginanya dan sedikit membelainya. Sambil senyum-senyum sendiri, gadis itu membayangkan dada telanjangnya
dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari Roy pacarnya yang tidak penah bosan juga mengulum puting dan menciumi kulit payudaranya yang mulus dan harum itu. Tidak percuma ia setiap 3 hari sekali memberikan lulur pada tubuhnya, terutama pada payudaranya yang sampai sekarang memiliki aroma yang memabukkan walaupun dalam kondisi berkeringat. Mona menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru tadi malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan pacarnya. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian pacarnya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dengan hot dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum penis Roy sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran penis Roy saja udah bikin deg- degan, ga sabar untuk ketemu dan mengemut-ngemut
batang kemaluan yang kokoh itu. “Huuuh..mending gua mandi aja deh, otak gua jadi kotor nih..” Selesai mandi, sedikit terusir pikiran-pikiran tadi karena sudah tersiram air dingin. “Loh, kok ga bisa sih nih?” Mona sudah beberapa saat ngga bisa memutar kunci lemari bajunya, ia masih coba terus beberapa saat tapi masih ga bisa juga. “Duh, mesti minta tolong ama bandot itu dong” keluhnya Untungnya masih ada baju di keranjang yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Tapi setelah memilih-milih, di keranjang baju itu hanya ada underwear 2 pasang dan baju- baju khusus tidur yang tipis dan seksi serta baju dalaman sexy seperti tanktop dan rok mini yang mininya 20 cm dari lutut. Dari pada pakai baju tidur tipis ia memilih rok mini dan tank top yang rendah belahannya. Sebelum ke Pak Mahmud, Mona memilih untuk makan malam dulu di ruang makan bersama, sambil makan ia menyalakan tv dan duduk di ujung sofa. “Ehh..mba Mona baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe seseksi kamu makan sendirian” tiba- tiba si bandot itu muncul, dan langsung menyantap paha Mona yang disilangkan itu, sungguh mulus, lalu ia duduk di samping gadis itu. “Ia pak..sekalian makan pak… terus sama minta tolong kok lemari baju saya ga bisa dibuka yah?” pinta Mona sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia-sia menarik turun rok mininya. “buset tuh mataaaa…abis gua..” katanya dalam hati. “Ooo gitu, nanti saya periksa deeeh…” “Makasih ya pak”. Mona buru-buru nyelesaiin makannya, saat tiba-tiba ia merasa dadanya bagian putingnya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada vaginanya. Ia masih berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, duduknya jadi gelisah dan ia berusaha menggoyangkan badannya agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra-nya dan ia mempererat silangan kakinya. Tapi rasa gatalnya tidak berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaranya terasa gatal. “Ouuuhh..” akhirnya Mona tidak tahan dan ia menggaruk sedikit kedua payudaranya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya karena keenakan menggaruk ia lupa ada Pak Mahmud di situ. “Kenapa kamu? Kamu kegatelan yaah?” “Uuuhh… sssshh..ehm, i…iya pak..” terkejut Mona karena baru ingat ada si bandot di sampingnya, tapi ia terus menggaruk makin cepat dan karena tak tahan ia menggaruk juga ke pangkal pahanya.. “Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah Mona berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahinya tergelitik. “per..permisi pak..uuffh..” sambil terus menggaruk ia mau bangkit dari kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya terduduk kembali sambil terus menggaruk Sedetik ia melihat Mahmud hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu setan ke dirinya yang terus menggaruk itu. Gadis itu mengutuk karena ia memberikan tontonan gratis kepada pria tua itu tanpa dapat mencegah. Gerakannya makin cepat dan tidak karuan karena kedua tangannya hanya bisa menggaruk – menggaruk bagian dari 3 bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sudah tersingkap semua karena ia harus menggaruk liang kemaluannya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan berkulit putih mulus itu. Gadis itu terus merintih-rintih karena kini rasa gatalnya sepertinya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan celana dalam tipisnya untuk vaginanya, tubuhnya serasa lemas karena rasa gatal dan birahinya yang kini membuat vaginanya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras. “Misi pak…mau ke kamar dulu niiih..uuhh..” Kata Mona, tapi Pak Mahmud diam saja menghalangi jalan keluarnya. Rasanya
ingin marah saja tapi rasa gatal itu menghalangi rasa marahnya. Karena akhirnya ia tidak tahan dan tidak bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik tali tank topnya kebawah dan menarik turun branya sehingga kini buah dadanya telanjang yang segera ia menggaruk dengan cepat dua gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan karena rasa gatal pada vaginanya makin menghebat. Pak Mamud tertawa dalam hati, ia menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa buah dada Mona yang berbentuk bulat kencang itu tidak tertutup apapun serta baju Mona yang sudah tidak keruan. Senang ia melihat gadis yang cantik tapi sombong ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mengganti kunci lemari baju Mona dan menaruh bubuk gatal pada pakaian dalam gadis itu dan sengaja memilihkan baju yang seksi tertinggal di luar lemari. Tangan Mona masih bergerak cepat berpindah-pindah mencoba menggaruk 3 bagian tubuh, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk vaginanya secara langsung tapi ia kesulitan karena harus menggaruk putingnya. “Saya bantu ya sayang…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Mona, sehingga sekarang terlihat “bibir” bawah tersebut yang dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan. “Nggeeh..ja..gan kurang ooouhh..”ia tidak dapat melanjutkan umpatannya karena ia menikmati garukan pada vaginanya walau ia harus berpindah lagi sambil merintih- rintih terus Ia terkejut sesaat ketika tangan Pak Mahmud mengelus- elus pahanya, tapi ia tidak bisa memperdulikannya lagi yang penting ia harus terus menggaruk. Dengan leluasa Pak Mahmud menjelajahi lekuk liku tubuh montok itu tanpa penolakan, kulit pahanya terasa lembut dan daging paha sintal itu terasa kenyal dan hangat dalam usapannya. Karena belaian- belaian yang dilakukannya ini membuat Mona makin menggelinjang karena kini birahinya sudah melonjak. “Biar ini aku yang bantu yaah..” dengan sigap jari-jari tangannya hinggap di vagina Mona dan menggeseknya dengan liar. “Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh… iyaa… ouuhh” ngga jelas Mona mau ngomong apa, sedetik ia tahu vaginanya sedang diobok- obok oleh orang yang dia sebel, tapi ia tidak tau dan tidak berdaya karena rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tidak mampu menolak perbuatan Mahmud. Kini ia fokus menggaruk payudaranya, tidak hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri. Dengan leluasa Mahmud menggesek- gesek bagian tubuh yang paling rahasia milik gadis itu. Hampir 5 menit kini liang vagina itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Mahmud yang sudah ahli itu. “aaahh..jgn dilepas..ohh… pak..” jerit Mona saat tangan Mahmud mengangkat tangannya dari vaginanya yg sudah basah itu dan malah “cuman” mengelus- elus pahanya dan meremas pantatnya. “Kenapa sayang..? kamu mau aku untuk terus mengobok-obok memek kamu..?” tanya Mahmud. “Ngeh..ngeh..iii yaaa paakk… ouufh..” diantara engahannya “kamu yakin..??” “uuhh…ngeh…sssh..” ia hanya mengangguk “kamu mohon dong sama aku..paaak Mahmud sayang, tolong obok-obok memek saya… please saya mohon” Mendengar perintah itu, sekejap Mona merasa malu dan marah tapi segera terganti kebutuhan body-nya yang sudah terbakar birahi secara aneh itu. Ia berusaha untuk tidak mengucapkan itu dengan terus menggaruk, tapi ia tidak kuat.. “ouuh..ngeh..Pa..Pak Mahmud sssss….sayaaang, ooh..tol..long obok…obok me…nggeh…memek sayaaaa…pleeeeease…uuuff.. saya mohoooonn…” erang Mona. “Tentu sayang…” Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir vagina Mona yang becek itu dan menggesek dengan cepat. Mona melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badannya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya “Haaa..ternyata disitu yaaa…” dengan ahli ia memainkan jari itu pada g-spot tsb yang mengakibatkan Mona mendesah- desah. Gadis itu merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik.. “Oouuhh… ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Mahmud makin menggila dan terus menggila, ia
sudah hampir tidak tahan. Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tidak mengira bahwa dirinya dapat dibuat klimaks oleh Mahmud. “Ouuuuuuhhhhhh…. aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Mona mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras. Cairan makin deras membahasai liang vaginanya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin
lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Mahmud menunduk dan mencium bibirnya yang tipis. “mmmmmpphhh…..” Mona mengerang dan sulit menolak saat lidah Mahmud memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Mahmud masih mengocok kencang dan gadis itu merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Mahmud berpindah mencium puting kirinya.. “Auukkh..ssttopp..ssssshh… ssshh..” tapi Mona malah membusungkan dadanya mempermudah Mahmud menikmati puting kerasnya. Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu setan yang tidak pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Mahmud ke penisnya di balik sarungnya. “oouuh..bes..bessar banget ppaakk..” gumam Mona tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik ke arah batang kemaluan Pak Mahmud yang ternyata lebih besar dibanding milik pacarnya, pikiran nafsunya tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum penis itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila penis itu menyerang vaginanya. Dengan birahinya yang terus membara dan terus dijaga geloranya oleh Mahmud, Mona dengan suka rela mengocok- ngocok penis raksasa Pak Mahmud itu, ia sudah tidak ingat akan bencinya dia terhadap pria tua berumur 60 tahun itu. Mahmud mulai mendesah-desah keenakan di antara kulumannya pada kedua puting Mona. “aaaaaaannggghhhhh…
pppaaaakkhh…… aaaaaaannggghh…”
Mona mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut karena kocokan tangan Mahmud, matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai seperti menahan sakit. “Sekarang kamu isep punya bapak yaa..kamu kan jago kalo sama pacar kamu” “ouuh..ngga ma..mau..ap… aauupphhh..mmmhh..” Mona yang lemas akibat klimaks tadi tak berdaya menolak saat Mahmud menarik lehernya membungkuk ke arah batang “monas” nya, tidak memperdulikan protes Mona yang ia tau hanya pura- pura karena sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu. “Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…kamu suka kan..?” tanyanya “mmmmmpph… sllluurpp..mmmmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Mona, yang dengan semangat memainkan lidahnya menjilati dan menghisap penis Mahmud. Aroma dan rasa dari penis laki- laki itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak. “Bapak tau..kamu cuman cewek sombong yang sebenarnya punya jiwa murahan dan pelacur… plaakk..!!”
Mona tersentak saat pantat bulatnya ditepak oleh Mahmud, mukanya merah dan marah tapi sebenarnya malah membuat dia makin terangsang dan makin cepat ia mem-blow job penis Mahmud. Belum pernah ia merasakan birahinya dibangkitkan dengan cara kasar ini, tapi ia tau bahwa ia sangat menikmatinya. “Kurang ajar nih aki- aki” gerutunya dalam hati dan ia menggigit gemas ke penis Mahmud yng membuatnya itu mengelinjang dan lidahnya makin cepat menyapu urat di bawah penis itu. “Ayo..sekarang kamu naikin penis aku..” Tanpa berucap Mona mulai menaiki ke atas tubuh tambun Mahmud, dengan deg-degan menanti penis besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Mahmud yang memegang pinggangnya yang ramping. “Ooooh..” Mona mengerang saat ujung “helm” penis itu bersentuhan dengan bibir vaginanya dan mulai memasuki liang surga. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat
baru masuk sedikit, liang vaginanya berusaha mengimbangi diameter penis Mahmud itu. “Enak kan sayang?” “Hmmmmm…nggh…” Mona hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu penis itu membenam ke dalam vaginanya. Tapi Mahmud hanya menggesek-gesek liang vagina Mona itu dengan ujung kepala “meriamnya”. Gadis itu menggoyang-goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan badannya, tapi Mahmud tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat “menunggangi” penis Mahmud. “Hemmm…kenapa sayang? Udah ga sabar yaa ngerasain ****** bapak?” “Huuh?..nggeeeh… aa..paahh…” Mona ngga tau harus ngomong apa, masih tersisa gengsi pada dirinya. “Hehehe..masih sok alim uuh..kamu ya..? Kalo kamu mau ****** bapak, kamu harus memohon dengan mengaku diri kamu itu cuman perek murahan dan lakukan dengan seksi..” “aaahh…sssh..kenapa mes..ti gitu paakk…pleaaase…” Mona sudah benar-benar terangsang dan tidak bisa berfikir jernih lagi, dalam pikirannya kini hanya penis Mahmud saja. Mahmud mendengus dan seperti hendak memindahkan tubuh Mona di atasanya, merasa perbuatan itu. “Oouuh ooke..okeeh paaak… ngeh, tega bgt sih bapak…oouf paak, tolong masukin ****** ba..ngeehh..bapak ke
memekku paak, entotin sayaaa ooh paakk…akkuu..memang cewe murahan yang sok suci..nggeh..pleease..paakk..akuuu
mohooon…” pinta Mona memelas sambil meremas-remas kedua payudaranya. “Hehehehe…kamu tergila-gila ya sama ****** bapak..” “Iyaa ppaakkh…please..aku ga tahaaan paakk…” “Kontol pacar kamu ga ada apa- apanya kan?” “oouuh..jauuh pakkk..punya bapak lebih hebaat dan enaaaakk” “Hehehe..good…ini dia hadiahnya..” Mahmud lalu menarik ke atas tubuh Mona dan menurunkannya kembali, dengan diiringi erangan Mona merasakan penis itu makin dalam masuknya dan sulit ia menahan diri untuk tidak klimaks yang keempat kalinya. Mona kembali menaikkan badannya dan menurunkan kembali sehingga sudah ¾ penis itu diemut vaginanya. Gerakannya diulangi berkali-kali, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat karena vaginanya sudah bisa “menerima” penis berukuran di atas rata-rata itu. Gadis itu sudah benar-benar dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang- awang merasakan gesekan-gesekan penis Mahmud dengan dinding vaginanya. Tidak sampai 5 menit Mona
sudah merasakan akan keluar lagi. “Ouuh..gilaaa..paaakkh..
oouuuhhhhhhhhh..” Mona mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi penis yang masih perkasa itu. Buah dadanya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dengan nikmat Mahmud meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas- remasnya dengan gemas. Dengan liar ia terus menunggangi penis itu, diiring dengan bunyi “plok..plok..plok..plok..” yang makin cepat akibat beradunya badan Mona dengan perut buncit Mahmud. Hampir 15 menit Mona menikmati hunjaman- hujaman penis itu, dalam periode itu Mona sudah mencapai orgasme sampai 4x lagi, ia tidak dapat menahan untuk tidak melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit untuk fokus bahwa ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki- laki yang pantas jadi ayahnya. Ia merasa lemah sekali akan nafsu yang menguasainya, tapi sungguh terasa nikmat sekali yang tidak mampu ditolaknya. Mahmud juga sudah hampir mencapai puncaknya, penisnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Mona, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan buah dada montoknya bouncing naik turun makin cepat. “Uuuaaahh…gilaaaaa… ooouuuhhh…”
akhirnya Mahmud tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Mona. Mahmud merasakan dinding vagina Mona yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya. Dengan lunglai Mona turun dari tunggangannya dan rebah di samping
Pak Mahmud yang juga masih merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu. “Kamu memang hebat hebat cantik…” “Cukup pak..ngeh, aku ga tau kenapa bisa kaya gini tadi..ini harusnya gak terjadi, cukup sekali ini terjadi” Mona yang sudah mulai jernih pikirannya, ia kini sangat menyesali bahwa ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Mahmud. Ia memutuskan untuk pindah kost dan kejadian tadi harus dikubur dalam-dalam, tidak boleh ada yang tahu. Melihat Mona yang mulai membereskan bajunya dan hendak pergi, Mahmud bergerak cepat. Ia memegang leher belakang Mona yang sedang membungkuk hendak mengambil cdnya lalu dengan cepat membenturkannya ke meja kayu yang ada di depan mereka duduk. “uuuugghhh….” kerasnya benturan itu membuat ia setengah pingsan. “hehehe..ga secepat itu sayang..kamu akan jadi milikku..” Mahmud lalu menarik tangan Mona dan gadis itu pasrah saja dibawa dengan setengah sadar masuk ke kamar Mahmud. Lalu setelah melepas sisa bajunya, ia merebahkan tubuh telanjang yang masih lemas itu ke atas ranjangnya. Lalu ia mengikat kedua pegelangan kaki dan pergelangan tangan Mona ke ujung ranjang besi, sehingga kini tubuh telanjangnya itu dalam posisi kaki yang mengangkang lebar. “uuuh..apa-apaan inih…lepasin paak…”dengan suara masih serak dan
lemah Mona berontak dengan percuma, ia mulai takut apa yang hendak dilakukan. Melihat posisi dan kondisi Mona yang menggairahkan itu, Mahmud tidak tahan lagi ia membungkuk lalu menciumi payudara montok dan memainkan lidahnya mengecupi puting Mona yang sebentar saja langsung mengeras. “Ouuh..pak..! lepasin saya pak… kalo ngga sa…aauupphh… mmbbllllmmmmm…” Mona tidak dapat melanjuntukan omongannya karena ditutup lakban oleh Mahmud. Kini kesadaran Mona sudah mulai pulih, ia masih terus berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan kaki dan tangannya tapi ikatan itu sungguh kuat. Ia mulai takut karena kini ia tidak berdaya dan berada dlm kekuasaan Mahmud. Pandangan matanya mengikuti Mahmud seperti mata kelinci yang sedang ketakutan melihat serigala yang akan memangsa, dan air matanya mulai meleleh di pipinya. “Eeeiih..kenapa nangis cantik? Aku paling ga suka liat cewe nangis…tapi sekarang kita liat film dulu ya…”ujar Mahmud sambil memasang kabel menghubungkan dari handycam ke tv. Lalu ia mulai menyetelnya. Mata Mona terbelalak kaget saat melihat tayangan video di layar tv, jantungnya serasa akan copot dan kepalanya tiba- tiba pusing mendadak melihat adegan per adegan dari video itu. Ternyata kejadian di sofa ruang tengah tadi semuanya direkam oleh Mahmud dari tempat tersembunyi, terlihat jelas saat ia melihat dirinya mulai merasakan gatal yang menyerang, mulai mencopoti bajunya dan sampai kejadian dia berhubungan sex dengan Mahmud. Perasaannya makin hancur saat ternyata Mahmud tidak hanya merekam dari 1 sudut saja, terdapat 4 handicam tersembunyi yang merekam seluruh kejadian. Bahkan saat ia memohon kepada Mahmud untuk mengobok-obok vaginanya dan pengakuan dia sebagai cewek murahan juga terdengar jelas. Wajah gadis yang cantik itu jadi pucat dan tubuhnya bergetar, ia sudah menduga apa yang akan diminta oleh Mahmud dengan adanya video itu. Perasaannya geram, marah, benci, takut dan lain-lain bercampur aduk, kini ia hanya dapat menangis. Terlihat jelas bagaimana wajahnya menunjukkan dirinya menikmati setiap detik permainan panas itu dengan aki-aki tambun yang sudah tua. “Percuma kau menangis..kini kamu akan merasakan akibatnya karena selama ini menjadi cewek sombong yang sok suci. Bapak tau apa yang kamu lakukan sama pacar kamu selama ini, nah..sekarang kamu harus nurut apa yang bapak mau, kalo ngga bapak jamin film ini akan nyebar kemana- mana, kamu ngerti…??” tegas Mahmud. Mona hanya mengangguk lemah dengan pandangan sayu. “Sekarang yang aku minta kamu tidak boleh nangis selama kamu melayani saya..bisa..?? kalo tetap nangis kamu akan terima hukuman yang berat..” Kembali Mona hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa akan ada jalan keluar nantinya. Tanpa sadar ia membayangkan kejadian tadi, dan ia teringat akan ukuran penis Pak Mahmud yang memang di atas rata- rata. Dengan pikiran itu tanpa dapat dicegah terasa desiran-desiran halus di perutnya dan ia merasa putingnya agak mengeras. “Sayang…yang punya
penis si Mahmud ****** itu..” pikirnya. Mona melotot kaget saat Mahmud mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata merupakan dildo vibrator yang berukuran panjang. Mahmud kini duduk di ranjang di dekat kakinya yang ngangkang itu, memperlihatkan vaginanya yang terbuka menantang, lalu ia mengusap dengan tangannya yang mengakibatkan Mona terhentak. “Kayanya udah basah nih..udah siap yah..” goda Mahmud, lalu ia membungkuk dan wajahnya kini sudah di depan liang surga milik gadis cantik itu, tiba-tiba Mona menggelinjang saat lidah Mahmud menciumi dan menjilati vaginanya. Untuk beberapa saat Mona menggelinjang-gelinjang, nafasnya kembali memburu dan pandangan matanya sayu. “Ngggeehhhhhhhh…!” Mona menjerit dengan mulutnya yang tertutup lakban, saat Mahmud memasukkan dildo ke dalam lubang kemaluannya yang sudah basah dan ngilu itu dan terus mengerang karena dildonya makin dalam ditusukkannya. Kembali ia menggelinjang hebat saat Mahmud menyalakan vibartornyanya. Terasa sakit, tapi setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atau pernah ia bayangkan. Kini erangannya terdengar seperti rintihan kenikmatan diiringi dengusan nafasnya yang memburu. Mona melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bag bawah makin menggila dan menggelora. Dengan rasa malu dan kaget, ia mencapai klimaksnya dengan sensasi yang luar biasa..” “nngggggghhhhh… mmmmmmmmmmhhhhh…..!!!!”
Tubuh montoknya menegang sesaat ketika klimaksnya menyerang, pandangan matanya makin sayu. Tapi dildo itu tetap bergetar seperti mengoyak- ngoyak bag dalam vaginanya, dan rasa nikmat kembali dirasakan makin meningkat, nafasnya memburu dan kini pikirannya sudah tidak terkontrol, nafsu birahinya terus membara karena dildo itu. “Naah..kamu seneng aja ya ditemenin ama dildo bapak ya… tenang aja, getarannya akan makin keras kok udah saya setting dan bapak colokin ke listrik..hehehe..bapak mau bikin back up untuk film kamu tadi ya..” kata Mahmud, ia hanya ketawa melihat Mona memandangnya dengan tubuh telanjangnya yang menggeliat- geliat, tubuh montok yang tampak berkilat karena keringat. Mahmud makin tertawa karena Mona mengerang lagi karena telah orgasme untuk kesekian kalinya, lalu ia meninggalkan Mona yang terus mengerang- erang karena getaran dildo itu. Tidak terhitung berapa kali Mona dipaksa untuk orgasme, tubuhnya mengkilat karena basah oleh peluhnya, gadis itu merasa lemas sekali tapi dildo yang menancap di vaginanya memaksa dia untuk terus dirangsang. Akhirnya karena tidak kuat lagi, gadis malang itu jatuh pingsan. mona dan bapak kost BerbBaca Juga Cerita Seks Dewasa Lainnya